Hutan terasa makin sunyi dan mencekam. Namun, Rira dan tiga rekannya berdiri di sana, menampilkan ekspresi yang anehnya penuh keyakinan dan bahkan kegembiraan. Mereka melontarkan kalimat-kalimat yang sama sekali tidak dipahami oleh Leena. Namun, satu hal yang jelas adalah kedatangan Lynx seharusnya membuat mereka gentar, tetapi justru membuat mereka bersorak dalam hati.

"Meniru kekuatan Lynx? Apa maksudnya?" Leena membatin, kepalanya dipenuhi dengan rasa bingung.

Lalu, segalanya berubah. Kekuatan aura Rira dan rekan-rekannya, yang tadinya terasa setara dengan ranah immortal, tiba-tiba saja merosot drastis. Sebuah kejutan besar melanda semua orang di sana, termasuk Leena.

Wajah Ekar berubah pucat pasi, matanya membelalak kaget. Ia melirik tangannya sendiri seolah tidak mengenali auranya. "Tidak mungkin! Kenapa ini terjadi? Mengapa ranah kita tiba-tiba jatuh ke tingkat forging qi tingkat dua?" desisnya penuh keheranan.

Rafin, di sisi lain, mulai panik. Ia menggenggam erat senjatanya. "Lala, sihir kita... apakah sudah tidak berfungsi? Ada apa ini?" tanyanya gemetar.

Lala, yang juga sama bingungnya, hanya bisa menatap Lynx. Ia belum pernah menyaksikan fenomena seperti ini selama menggunakannya. Rahangnya sedikit mengendur, ia terpaku dalam rasa tidak percaya dan keheranan. Karena ketidaktahuannya dengan batasan sihir miliknya, dia menyalin kekuatan Lynx yang hanya berada di ranah forging qi tingkat dua. 

"Leena, cepat! Kita tiru dia lagi!" seru Lala, suaranya terdengar mendesak.

Sebelum Lala sempat menyelesaikan kalimatnya, suara yang keluar hanya berupa teriakan tertahan. "Ahhhk! Leena... Kau..." Lalu, pandangan matanya kosong, dan ia terjatuh. Bersamaan dengannya, ketiga rekannya ikut ambruk, tak sadarkan diri.

Leena masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Namun, instingnya berteriak untuk memanfaatkan momen ini. Melihat kekuatan mereka anjlok drastis, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan yang cepat dan tangkas, Leena memukul titik lemah keempat orang itu hingga mereka benar-benar pingsan.

Lynx segera mendekat, ekspresi cemas terlihat jelas di wajahnya. "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Leena tersenyum lega, dia menatap Lynx dengan wajah gembira. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan suku Surya?"

Lynx menghela napas panjang, sebuah kelegaan terpancar dari matanya. Ia mengacungkan jempol kanannya. "Mereka aman, semua sudah berada di dalam dunia kecil. Aku percaya Lala akan menjaga mereka dengan baik."

Mata Lynx beralih pada Rira yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Ia menyentuh dagunya, seolah sedang berpikir. "Ada apa dengan mereka? Kekuatan mereka kenapa mendadak menjadi sangat lemah, menjadi forging qi pemula. Apa yang terjadi?"

Leena menggelengkan kepala, bahunya sedikit terangkat. "Entahlah. Mungkin sihir yang mereka gunakan memiliki durasi waktu tertentu, dan kini sudah habis. Kekuatan mereka kembali ke semula."

Tiba-tiba, Leena tersentak kaget. Ia menunjuk ke arah salah satu sosok yang pingsan, yang tergeletak tak jauh dari Rira. Dengan mata terbuka lebar, ia menyaksikan tubuh orang itu menyusut dengan cepat dan menghilang sepenuhnya, hanya menyisakan pakaian kosong di tempatnya.

"Ke mana dia pergi?" Leena bertanya, suaranya dipenuhi rasa terkejut yang mendalam.

Lynx segera menyebarkan energi spiritualnya ke seluruh area. Ia harus tetap waspada, jangan sampai orang itu menyerang mereka secara diam-diam. Namun, setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, Lynx tidak menemukan jejak apa pun.

Ia menunduk, sedikit bergumam. "Dia sudah tidak ada di sini. Teknik apa yang baru saja dia gunakan? Kemampuan menghilangnya sangat luar biasa."

"Kita segera pergi dan membawa mereka dari tempat ini. " Kata Leena sambil menatap Rira dan yang lainnya.

Tanpa ragu, Lynx membuka portal dimensi, lalu membawa Lala dan rekan-rekan lainnya yang pingsan masuk ke dalamnya, meninggalkan area hutan yang kembali sunyi.

***

Di dalam kediaman megah keluarga Baihuan, ketegangan terasa begitu pekat. Mira bersama keempat rekannya yang juga penyihir berdiri di halaman utama. Mereka dikelilingi oleh puluhan kultivator terkuat keluarga itu. Meskipun dalam posisi terkepung, Mira dan rekan-rekannya justru menampilkan senyum sinis yang penuh keyakinan, seolah tidak terpengaruh oleh para kultivator yang siap menyerang.

Mira melangkah maju, tatapannya terfokus pada Monrest yang berdiri di barisan depan. Pria tua itu memancarkan aura yang sangat kuat.

"Pria tua," sapa Mira dengan nada tenang, "Aku melihat kamu bukan immortal biasa. Serahkan fragmen senjata iblis yang kamu simpan, dan aku akan memberimu hadiah yang menarik."

Monrest tertawa lepas. Tawanya terdengar bergema di seluruh penjuru, penuh dengan rasa meremehkan.

"Kamu ingin fragmen senjata iblis?" balas pria tua itu, suaranya serak tapi penuh wibawa. "Seharusnya kalianlah yang menyerahkan fragmen senjata iblis itu kepadaku. Apakah kalian tahu? Akulah pemilik asli senjata iblis tersebut."

Mira menyipitkan matanya, dia menatap Monrest dengan tatapan terkejut. Sejak bertemu dengannya, Mira sudah merasakan keanehan dari aura milik Monrest yang menyerupai energi iblis. Kini mendengar perkataan Monrest membuat Mira merasakan perasaan tidak enak di hatinya.

Mira menunjuk Monrest dengan tongkatnya, "Aku tidak peduli apakah kamu pemiliknya atau bukan. Serahkan senjata itu atau aku akan mengirimmu ke dalam kegelapan abadi."

"Wanita bodoh. Di depan kekuatanku, kalian hanyalah semut." Monrest menghentakkan kakinya sehingga tanah bergetar, tubuhnya memancarkan aura yang menekan Mira dan rekan-rekannya.

 

"Nyonya, kalau mereka tidak mau menyerahkannya, kita bunuh mereka semua." Rina mendekat dan berbisik ke Mira sambil menahan tekanan yang muncul. 

"Kekuatan mereka sangat menggiurkan. Bisa kita serap untuk memperkuat kristal-kristal sihir kita." Dita menimpali dengan nada gembira. 

Tongkat kecil di tangan Mira yang awalnya berukuran sekitar setengah meter mendadak berubah menjadi besar dan memanjang sekitar dua meter dengan bola kristal yang ada diujungnya bercahaya. Mira mengetukkan ujung tongkat ke tanah dan memberi perintah,"Menyebarlah! Hancurkan mereka!" 

Seketika itu juga, suasana yang tadinya tegang meledak menjadi pertempuran sengit. Tanpa menunggu aba-aba, keempat penyihir yang mendampingi Mira lenyap dari pandangan. Mereka muncul kembali di empat penjuru berbeda, menghadapi para kultivator dari ranah Master Foundation hingga Immortal.

Pertarungan langsung memanas. Para kultivator keluarga Baihuan terkejut melihat keahlian para penyihir yang jauh melampaui dugaan mereka.

Rina bergerak menuju seorang kultivator Immortal. Saat kultivator itu meluncurkan pukulan bertenaga, Rina hanya mengangkat telapak tangannya. "Rasakan kutukan Bayangan dariku," gumamnya pelan. Seketika itu juga, tanah di sekitar kultivator itu mengeluarkan bayangan hitam yang melingkari tubuhnya, mengikatnya erat. Kekuatan yang digunakan untuk melawan terasa kosong, membuat kultivator itu kehabisan energi dan terjatuh. Para kultivator lain yang hendak menolong mendadak mengalami hal yang sama. Kekuatan kutukan yang di keluarkan Rina akan mempengaruhi siapa saja yang saling bersentuhan.

"Hentikan, jangan ada yang menyentuh mereka. Serang wanita itu! Bunuh dia!" kata salah seorang pria tua di tingkat Immortal.

Di sisi lain, Sari menghadapi dua kultivator Immortal sekaligus. Ia tidak menggunakan serangan fisik. Sebaliknya, ia menjentikkan jarinya, dan udara di sekitar kedua lawannya mulai membeku. "Kutukan Kristal Es," bisiknya. Secara perlahan namun pasti, kulit para kultivator itu mengeras, seolah dilapisi es. Mereka berusaha melawan, namun gerakan mereka melambat hingga akhirnya mereka terdiam kaku seperti patung es. 

"Tetua..." teriak para kultivator. "Lepaskan tetua kami."

"Heavenrend Soul Howl"

Suara raungan serangan seorang grandmaster datang menuju arah Sari. Serangan tersebut meretakkan ruang dan mengirimkan gelombang serangan jiwa murni ke arah target. Namun dengan mudahnya Sari membelokkan serangan tersebut kembali ke pemiliknya.

DUAR!

Suara ledakan saat serangan tersebut tepat mengenai pemiliknya hingga terlempar jauh. 

Dita di sisi lain menghadapi tetua keluarga Baihuan lainnya beserta para grandmaster. Ia menciptakan perisai dari energi murni yang memantulkan setiap serangan. Ketika musuhnya terlalu dekat, ia menembakkan bola energi hijau gelap yang disebut 'Bintang Kebusukan'. Bola itu mengenai dada kultivator tersebut dan langsung menyebar, menyebabkan erosi pada Qi mereka. Dalam hitungan detik, tubuh kultivator itu melemah drastis, jatuh tak berdaya.

Lila tertawa gembira menghadapi para kultivator di hadapannya. Ia menyulap serangkaian simbol api di udara. Api itu tidak panas, tetapi terasa dingin menusuk tulang. "Mantra Pembakar Jiwa," ucapnya. Api biru itu melompat dan menempel pada seorang kultivator Grandmaster. Kultivator itu meraung kesakitan, bukan karena luka fisik, melainkan karena energi spiritualnya terasa terbakar habis dari dalam. Ia ambruk dengan mata terpejam, kelelahan total dan api itu segera menyebar ke para kultivator lainnya yang bersentuhan dengannya.

Dalam waktu singkat, puluhan kultivator Baihuan tergeletak tak berdaya. Mereka kalah karena tidak menduga kekuatan yang dimiliki para wanita tersebut berbeda dengan kekuatan yang  pernah mereka lihat sebelumnya. Kekuatan yang dapat menghancurkan mereka dengan mudah. Tanpa mereka sadari, mereka berkumpul menjadi satu mendekat ke arah Monrest.

"Ketua, tolong kami." kata salah satu dari mereka.

Monrest menyaksikan kehancuran anak buahnya dengan mata terbelalak. Wajahnya memerah karena amarah. Ia mengepalkan tinjunya hingga urat-urat menonjol di lengannya. Dia tidak peduli dengan nasib para kultivator keluarga Baihuan, namun dengan kematian mereka, akan mengganggu rencana berikutnya. Dia memerlukan banyak anak buah untuk dapat menaklukkan dunia-dunia lain sebelum menghancurkan dunia surgawi. Teknik yang mereka gunakan belum pernah dia mendengar atau melihat sebelumnya, bahkan dia tidak bisa merasakan ranah para wanita di depan mereka.

Monrest menatap wanita muda di hadapannya dengan tatapan tajam, auranya semakin membesar diselingi aura kehitaman yang terkadang muncul seperti api hitam."Aku yakin wanita ini yang terkuat di antara mereka."

